Catatanku di Maya

Archive for April, 2010

Senyuman di Balik Awan

malam ini, kembali kulihat dirimu …
dan… masih tetap tersenyum untukku


namun tak seperti malam yang lalu
senyummu seolah pasi terlihat olehku
arakan mega kelabu itu
…mendatangimu…
…melingkupimu…
…menutupimu…


dan kuyakin, kau pasti masih tetap tersenyum untukku…
…meski di balik awan kelabu …

bintangku …

tahukah engkau apa yang kini ada di rasaku?
senyuman itu mulai tersungging di sudut bibirku
meski sendu masih menggayutiku
meski kelabu masih melingkupiku
meski gundah masih menutupiku


namun kuyakin selalu
kan berakhir semua resahku
seiring dengan berlalunya waktu
dan bergantinya lembar hari-hariku…

***
-ceceran gundahku … pada bintangku-

selalulah untuk tersenyum, semangat dan optimis, di tengah ujian yang datang menyapa… Dia yang mengujimu dan Dia pula yang memberikanmu jalan keluar…
Advertisements

Bintang Itu Selalu Tersenyum

Kulihat sebuah bintang terang di langit malam, menemani perjalananku.
Kuarahkan pandangan ke langit dan menatapnya.
Sinarnya terang, seolah dia tersenyum padaku.
Pikiranku merangkai kata-kata monolog padanya…

Bintang…
tahukah engkau gundahku yang menyergap?
tahukah engkau gelisahku yang mendera?
tahukah engkau kemana hatiku mengembara?

Lengangnya jalan selengang hatiku,
pikiranku melayang, hatiku mengawan…

Dan pada beberapa lintasan,
kupandangi bintang itu lagi…

Dia masih tersenyum, tetap tersenyum, dan selalu tersenyum…

Andai aku … dan ingin aku jadi bintang itu,
tetap tersenyum dengan apa yang telah digariskan padanya,
selalu tersenyum dengan penuh ketundukan padaNya…

***

-sebuah kisah nyata curahan hati atas kegelisahanku yang kurangkai dalam kata-kata sendu-

Penjelasannya bisa dilihat di sini

di hujan itu

di hujan itu kita bertemu

di hujan itu kita mencumbu semu

di hujan itu kita memadu rindu


di hujan itu kau torehkan rasa di jiwaku

di hujan itu kau ciptakan beku di hatiku

di hujan itu kau kalungkan belenggu di asaku


dan saat hujan itu berlalu …

kucoba hapus semua tentangmu

bayangmu dan kenangmu


kan kusisakan di rintiknya yang sendu

namamu dan jiwamu


***


-dan biarkan hujan itu berlalu bersama bayangmu-

kelak

meski sesaat waktu

tolong, temaniku di sini

kubutuh semangat itu

meski dari luar diri


kelak jika tiba masanya

sayap ini mengepak mengudara

kukan melesat terbang tinggi ke angkasa

meninggalkanmu jauh di bawah sana


namun, ingatlah selalu
bahwa mawar merah itu

kan selalu indah di hatiku


dan saat itu
aku masih ingin mengunjungimu

di pagimu
di harimu


berkicau di tamanmu
dengan kicauan merduku
ceriaku
harapanku
semangatku
hidupku
jiwaku

sambil kunantikan selalu
kau pun juga bisa terbang sepertiku

kelak … di tepian waktumu …

***

– sebuah catatan usang yang terserak di lorong hatiku-

Kutinggalkan dia KarenaMU

pekat terasa…
gelap gulita
serasa muka ini penuh jelaga


menggapai jalan
tak tentu arah tujuan


duhai jiwa…
mengapa kau rela bergelimang dosa?
durhaka selalu menyerta
nafsu memperkuat rasa


ku terduduk tak berdaya di hadapanMu

lelah…
lelah yang teramat sangat…

bantulah aku ‘tuk lepaskan belenggu jiwa
tak kan kurasa derita ini,
kecuali karena ulah sendiri…


Wahai Penguasa jiwaku,
tak kan kubisa menggapai cintaMu
bila nafsu melingkup kalbu
tak kan kubisa mendulang rahmatMu
bila diri dan dosa masih bersekutu


nantikan diriku untuk bersamaMu
berikan aku waktu untuk meraih ridhaMu
‘ku akan berusaha segenap jiwaku
‘kan kutinggalkan dia karenaMu…

***
-dan siapkah kamu tuk meninggalkan dia karenaNya?-

dia … kan membuat hatimu menghiba
bila kau masih punya nurani jiwa akanNya
hatimu kan menghiba tuk kembali padaNya
tuk kembali mesra bersamaNya
tak akan bisa Dia dan dia bersatu bersama
oleh karenanya,
tinggalkan dia karenaNya
dialah… hawa nafsu yang menyerta …

Mencoba

Mencoba membalik semua
sebelum hadirmu…

tanpa sapamu …
tanpa ceriamu …
tanpa candamu …
tanpa tawamu …
tanpa senyummu …
tanpa hangatmu …
tanpa hatimu …


…semuanya…
tanpamu…

sebab…
tak kan bisa dirimu
ada di setiap waktu
‘tuk warnai hari-hariku…
dan kusadari semua itu…

***
– dan akupun kan terbiasa tanpamu-

Merindukanmu

Dimanakah dirimu, sayang?
setelah sekian lama kumenantikanmu
‘tuk mengisi sunyinya ruangan hatiku …


Akahkah kau datang padaku, sayang?
bercengkerama di sini ‘tuk menemaniku
sambil bercerita tentang hidupku… hidupmu …


Sungguh aku merindukanmu, sayang …
‘tuk jadi penyejuk pandanganku
pelipur lara saat duka menyapaku …


Apakah kiranya Dia tengah menahanmu,
tuk menjumpaiku?

entah karena belum sucinya jiwaku
atau karena … tetap berlanjutnya ujian atas kesabaranku  …
entahlah… aku tak tahu …

sungguh… aku merindukanmu …

***
– meretas kesabaran tiada batas –