Catatanku di Maya

Menggenggam Pedihku

berlalu bersama waktu
membawa sedihku
menghapus kenangku
membunuh asaku

mengapa?
hanya itu yang bisa terucap pada lisanku
sambil kupandangi jejak itu

mengapa?
sambil kuberlalu
menggenggam pedihku…

***

dan aku sadar … semua ini harus berakhir …

Advertisements

Comments on: "Menggenggam Pedihku" (43)

  1. pedihnya diganti BARA saja mbak..
    hehehee

    ga mau…. sakiit… 😦

  2. masa lalu tak untuk dikenang.. .kita harus berdiri dan bangkit..kita jatuh untuk bangun

    betul virman, tetap semangat ya…

  3. ………….
    dan aku sadar … semua ini harus berakhir …
    ………..
    akhir yg indah.

    i hope so, brader… ^^

  4. Aku hanya tercenung….
    apakah ini realita kepedihanmu rose ?

    Atau hanya sebuah ilusi ?

    realita yang kuusung dalam susunan kata-kata indahku… namun juga ini banyak terjadi di sekitarku kan, Dy?

  5. jangan digenggam kepedihan
    tar malah jadi sakit tak terobati….
    dilepasin aja pelan-pelan kan jadi enak…?

    sudah kulepas pelan-pelan, farus… kini aku hanya ingin mengenangnya saja… 🙂

  6. Lebih sakit yang mana yah, menggenggam pedih atau menggenggam bara api 😀

    realistis saja.. kalu menurut rose, sakitan menggenggam bara api.. karena sakitnya lebih nyata… kalau pedih, tinggal bagaimana hati kita tuk memenej kekecewaan yang terlahir di sana… ^^

  7. Kemana kedewasaan Kahlil Gibran
    ketika cinta mengetuk relungnya
    Bahkan puisinya semakin kusut
    mengering dan berserakan
    bersama hatinya

    Bahkan dia menghilang
    manakala duri manisnya
    menusuk sendu

    Dia terpaku
    segenap logikanya terpasung
    segenap urai tuk menghibur
    makin terkurung

    biarkan pedih itu kugenggam berlalu bersama waktu… karena aku masih ingin sejenak bersamanya meski sementara waktu… dan bila tusukan durinya telah begitu menyayat hatiku… aku kan lepaskan genggamanku atas pedih itu…

  8. Siti Fatimah Ahmad said:

    Assalaamu’alaikum Mbak Roseku

    Ahh… sejak akhir-akhir ini, hatiku selalu pedih. semakin ku genggam pedihnya semakin sakit dan luka mendatang. Mudahan kepedihan itu akan tenang kembali.

    BAU WANGI KELOPAK ROSEMU membuat hatiku tenang seketika.
    Tuhan… berikan aku ruang menggenggam ketenangan walau hanya sedetik cuma.

    Salam manis buat mbak Roseku dariku di Sarawak, MALAYSIA.

    wa’alaikumusalam warahmatullaah… sista, mendung tak kan selama menggayuti langit dunia dan jiwa, mlam tak selamanya memeluk bumi dan hati…. mentari kan bersinar, pagi kan menjelang… tetapilah rasa pedih itu dengan kesabaran tuk menghadapi dan mensikapi… semoga berbuah manis pada akhirnya nanti…terimakasih atas kunjungannya…. maaf rose lama tak berkunjung kesana… ^^

  9. Jangan terlalu lama menggenggam pedihmu…, biarkan saja dia berlalu..

    ya… dia akan segera berlalu… secepat mungkin harus… 😦

  10. kasihan si pedih digengam terus terusan

    suatu saat juga akan kulepaskan… jangan khawatir about me and it… 🙂

  11. khiri sekarang juga bos… ngapain pedih dibawa bawa

    segera kop… 🙂

  12. hmm sepertinya tentang luka masa lalu yah??? mungkin hanya waktu saja yang bisa mengobatinya,,
    *bener ga yah tentang itu maksud puisinya?* hihi…

    betul… luka masa lalu… waktu yang kan bicara dan menghapusnya dari kenangku… ^^

  13. wah, puisinya tentang kepedihan yach?

    yup…

  14. rose,
    kenapa mesti ‘menggenggam pedih?

    kenapa tidak ‘menggenggam bara?
    agar luka, duka dan kecewa jadi nyata.

    sungguh terlalu!! masak disuruh pegang bara… rose tolak mentah2…. 😛

  15. rose,
    kenapa mesti ‘menggenggam pedih?
    kenapa tidak ‘menggenggam bara?

    what??!!! u wanna kill me???!! 🙄

  16. Kenapa harus terus menggenggam pedih sementara masih banyak asa yang bisa diraih

    karena pedih itu pernah menyapa, dan masih kupertahankan tuk bersama…namun kusadar akhirnya harus akhiri semua…

  17. Ga pede sbnrx kasi komen, coz ak ga sepuitis yg laen 😦

    😀 like this mba, secara aku ga bisa buat puisi 😀

    gpp cempaka,setidaknya cempakaudah nikmati goresan penaku di sini… ^^

  18. […] This post was mentioned on Twitter by diary rose. diary rose said: Menggenggam Pedihku: berlalu bersama waktu membawa sedihku menghapus kenangku membunuh asaku mengapa? hanya itu y… http://bit.ly/cPjsvh […]

  19. keberadaannya mungkin masih bisa kupendam, namun dia masih seumpama lemari di sudut ruang yang kosong, menatapku tajam walau yang kulihat hanyalah sosok kelam. tatapan yang menyayatku setiap sudut matanya menyapu diri…

    *ikut nyumbangin sajak walau jelek…. hihihi

    bagus kok aurora, dan rose masih terpaku tuk mengurai maknanya… 🙂

  20. pedih itu menjadikanmu semakin tegar,
    pedih itu membawa semakin dewasa,
    pedih itu tanda hati kita bicara,
    tapi semoga pedih itu pergi,
    berganti dengan sebuah kebahagiaan… :mrgreen:

    tetap semangat Rose!!!
    salam hangat,, 😀

    terimaksih yan.. rose akan tetap bersemangat meski pedih pernah tergenggam… ^^

  21. Laki-laki Biasa said:

    hanya waktu yang kan mampu menghapus luka dan pedih itu..
    biarkan sang waktu bekerja.. 🙂

    ya biarkan waktu yang bicara dan takdir yang kan berkata…

  22. hmmmm mau dikasih backgound songnya gak?? cocoknya peterpan menghapus jejakmu..hueheuheheh

    ah cukup ini saja rani… ^^

  23. serdadoe tanpa markas said:

    dan gantilah genggaman pedihmu
    dengan cahaya
    untuk kembali ke rumah pertama

    insyaAllah cahaya itu akan kugapai..

  24. menghalau kegembiraan

    semua pengin bahagia
    tidak ada yang mau mengalah
    kurebut..
    tapi tak bisa
    kuambil…
    tapi tak samapi lenganku menjamahnya
    entahlah…
    samapai kapan bahagia kembali
    setelah pergi

    bahagia kan datang dari dalam sana… lubuk jiwa… bukan dari dia atau siapa-siapa…

  25. saya pernah berada diluka ini, meski tiga tahun telah berlalu tapi perih saat melihat pungungnya pergi masih terasa hinnga kini, 😦

    meski telah berlalu… namun goresannya laksana sembilu … 😦

  26. ‘sudah berlalu namun goresannya laksana sembilu’ asyikk..
    bisa jadi kalimat yg amazing dari dikau 🙂
    mengenang untuk tetap dikenang..

    indah ya naga… 🙂 telah berlalu namun goresannya laksana sembilu… ^^

  27. Kenapa harus berakhir? Bukankah awalnya tampak baik-baik saja. Sungguh perih nian…

    benar ifan, perih nian… padahal awalnya baik-baik saja, penuh kehangatan, canda tawa… tapi memang harus diakhiri… 😦

  28. kok sedih2an yaaa???
    semangat…. ^_^

    sedih itu warna hidup, fara.. terimaksih… ^^

  29. semoga dgn kunjungan bunda ini, kepedihanmu sedikit berkurang ya Rose sayang 🙂
    salam

    kesedihan rose berkurang dengan kehadiran bunda say… smoga bunda sehat selalu yaaa..^^

  30. Dangstars said:

    Sukses selalu dan salam hangat 😛

    terimakasih om… ^^

  31. Kok pedih yahhh …?
    😛 😛

    iya om.. emang pedih… 😦

  32. kok gak masuk???tes

  33. puitis…. keren mbak *siapin pulpen ama kertas minta bikinin puisi*
    salam dari manado,

    makasih wiwin…^^

  34. hellgalicious said:

    tapi entah mengapa
    aku selalu ga begitu faham sama yang namanya puisi
    oh, sungguh terlalu

    rose tersenyum membaca komen hellga.. 🙂

  35. Pedihmu…
    Kau lalui hari ini
    Kau kan jumpai ia lagi, esok atau nanti
    Kau genggam ia di sini
    Kelak akan akan lepas ia kembali
    untuk kembali datang
    dan menemanimu, lagi…

    *lagi belajar sastra di kebun tetangga*

    Yo… tahukah kamu? dia datang dan pergi begitu saja… dan dan dia datang kembali, kini tengah menemaniku lagi… tepat seperti yang kau katakan… dan aku tak ingin pedih itu kugenggam lagi… 😦

  36. nanangrusmana said:

    Rose,
    Jejak itu
    biarlah menunjuk jalan
    waktu mulai jejak pertama
    sedihmu takkan ada lagi
    di tanah yang akan Rose jalani
    Jejak baru kan segera samarkan
    lukamu dahulu

    Jejak itu,
    tlah berlalu
    tinggalah sebuah catatan waktu
    Rose, jalanmu masih terbentang
    di depan

    terimaksih nanang… namun jejak itu masih kentara di kalbuku… semoga waktu kan berhasil menggerusnya… namun ntahlah dengan kenangku… tapi kuberharap, semua akan lebih baik ke depannya… di ujung waktuku …

  37. serdadoe tanpa markas said:

    bukalah jemarimu
    biarkan cahaya itu menerobos
    celah jarimu
    menyusuri jejak
    yang pernah kau goreskan
    hingga kau dapati
    dimana cahaya itu
    berawal dan juga berakhir

    dan aku berjalan tuk menuju cahaya itu meski pedih pernah kugenggam…

  38. Fantastis..
    Dan penuh makna
    Nice

    terimaksih Om…

  39. tary Sonora said:

    semakin kau genggam semakin pedih, ibarat menggemgam belati, cobalah untuk perlahan-lahan meregangkan jari-jarimu agar sedikit demi sedikit pedih itu luruh.

    di tengah perjalananku… jari jemariku kan kuregangkan tuk membuang rasa pedih di hati ini Ry… makasih ya…

  40. Abu Ghalib said:

    dan setelah mengucap salam terakhir
    bayangan itu kian jauh hingga perlahan menghilang dari pandangan

    dan tinggallah jejaknya memenuhi ruang rinduku… take care abu, nice to be ur friend… 😦

  41. buang kepedihan masa lalu..semua telah berakhir..sekarang ukir keindahan masa depan…

    insyaAllah dind, itu pasti akan kulakukan bi’idznillaah…

  42. semoga pedih itu segera berlalu

    sudah berlalu, namun goresannya masih terasa laksana sembilu …

  43. assalamualaikum mba rose…sapaan pagi yang indah…

    terimakasih dinda… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: